24 January 2011

Senin, 17 Januari 2011. Pkl 11.55am.

Setelah keluar dari bandara Sepinggan Balikpapan, saya melanjutkan perjalanan mencari tempat menginap, sambil bertanya kepara penjual ditoko-toko samping jalan, mereka mengatakan ada 2 penginapan didekat bandara yang murah. Yang satu namanya hotel Yayang dan yang satunya lagi tidak memiliki nama tapi orang sini tahu itu tempat penginapan. Saya memutuskan berjalan kaki mencari sendiri kedua hotel tersebut. Setelah mengetahui posisi hotel yang tidak memiliki nama tadi, harganya ternyata Rp.175.000,- dengan fasilitas AC, kamar mandi didalam, televisi, dan springbed tanpa ranjang. Agak mahal kurasa, jadi kembali mencari hotel Yayang yang ternyata tidak jauh dari hotel tadi hanya saja masuk lagi kedalam pemukiman warga. Beberapa menit berjalan kaki, hotel Yayang pun ditemukan yang kondisinya lumayan cantik. Saya berpikir ini pasti mahal daripada hotel tadi tapi setelah bertanya kepetugas hotel, ternyata ada Rp.150.000,- permalam tanpa AC dan kamar mandi diluar. untuk sementara ini sudah cukup, karena sudah merasa lelah sekali dipesawat tadi. Setelah masuk kekamar tenyata tempat tidurnya bukan spring bed tapi ranjang kayu biasa dengan tilam busa... Ternyata hotel ini hanya luarnya aja yang cantik tapi didalamnya rata-rata terbuat dari kayu.



Selasa, 18 Januari 2011. Pkl 09.00am.
Saya memutuskan untuk pindah dari hotel Yayang dan mencari penginapan lain yang lebih murah. Dengan berjalan kaki berkeliling diseputar wilayah yang disebut Sepinggan, ternyata ada sebuah kost atau penginapan yang menyewakan kamar yang murah, namanya Penginapan Ilma. Setelah saya hubungi, sebuah kamar standar dengan kipas angin tanpa AC, kamar mandi diluar, tilam spring bed tanpa ranjang, dihargai Rp.90.000,- permalam, tetapi jika disewa selama 1 bulan biayanya turun menjadi Rp.550.000,-. Saya meminta hanya tinggal selama 1 minggu, dan pengelola kost menawarkan harga Rp.350.000,- kalau dihitung berarti Rp.50.000,- permalamnya. Ini sudah lumayan karena saya harus menunggu pesawat Air Asia yang berangkat hari minggu keluar negeri.


Selasa, 18 Januari 2011. Pkl 03.02pm.
Rencananya selama satu minggu menunggu di Balikpapan, saya ingin mencari tempat-tempat wisata. Kebetulan di internet ada situs pariwisata balikpapan yang memberikan informasi tentang tempat-tempat wisata di Balikpapan, alamatnya disini http://www.balikpapan.go.id/index.php?option=com_faskota&task=pariwisata . Tetapi karena kebingungan mau dimulai dari mana, jadinya malah kewilayah perkotaan dimana mall-mall dan gedung menjulang tinggi diangkasa berada. Tidak ketinggalan masjid agung At-Taqwa pun saya kunjungi, kagum dengan bangunan masjid tadi yang sangat besar dan megah. Sewaktu sholat ashar, sempat keteteran mencari tempat wudhu karena masjidnya yang besar dan sangat luas. Mondar-mandir kesana-kemari, sampai sholat berjamaah selesai barulah ketemu tempat wudhu, itupun setelah diajak oleh salah satu orang tua yang juga ingin mengambil wudhu, mungkin beliau heran kenapa saya mondar-mandir disekitar masjid, begitulah kalau malu bertanya jadinya sesat dimasjid.





Selasa, 18 Januari 2011. Pkl 04.10pm.
Selesai sholat kembali berjalan-jalan kaki mengelilingi toko dan mall yang lumayan lengkap. Hampir semua merk elektronik memiliki tokonya sendiri, merk telpon seluler seperti Sony Ericsson, Nokia, bahkan Mitto tidak ketinggalan membuka toko yang sama-sama saling bertetangga. Begitu juga Sony, Canon, Philips, dan Seiko membuat mata saya berbinar-binar melihatnya, bagi saya toko-toko itu jauh lebih indah daripada melihat uang 1 miliar rupiah. Setelah berjalan disamping jalan, kembali memutar dibelakang toko dan ternyata ada juga toko-toko kecil yang tidak bermerk tapi ramai, istilahnya, underground-nya lah. Tepat disebelah kiri jalan adalah pantai yang disiring tembok beton seperti dijalan lingkar Nunukan wilayah mambunut itu. Disana ada pasar ikan, jembatan yang dijadikan tempat memancing, dan makanan ringan seperti bakso, mie ayam, coto makassar, tidak ketinggalan es campur, es kelapa, dan lain-lain. Saya yang kebingungan karena tidak memiliki banyak uang hanya bisa membeli es kelapa seharga Rp.3000,- dan diminum disamping pantai yang sepoi-sepoi anginnya. Setelah kembali segar, perjalanan saya lanjutkan ke Plaza Balikpapan yang masih dalam tahap pembangunan, tetapi pengunjung sudah bisa masuk dan ada beberapa toko yang sudah siap menjajakan barangnya. Didepan Plaza Balikpapan ada satu-satunya jembatan penyebrangan di Balikpapan, itu kata sopir angkot. Tentu saja saya naiki, sambil memotret kesana-kemari, untung saja orang Balikpapan cuek-cuek saja jadi tidak terlalu grogi mengambil fotonya. Diseberang jalan Plaza Balikpapan terdapat sebuah taman kota yang diberi nama Taman Bakapai, taman yang memiliki monumen yang terbuat dari besi stanless dan terpancar air mancur ditengahnya ini memiliki Hotspot WiFi gratis dari telkom, hanya saja sering terputus ketika mengaksesnya, kemungkinan ada yang menggunakan software ARP poissoning. Setelah minuman Pocari Sweat saya habis, dan semua foto sudah saya dapatkan dikota tadi, tentu saja harus pulang kekost dan istrahat.







Rabu, 19 Januari 2011. Pkl 09.30am.
Pagi ini perjalanan saya mulai dari kost ke bandar udara Sepinggan denga berjalan kaki, untuk membeli tiket pesawat Air Asia. karena tiket Air Asia hanya tersedia di Bandara, jadi jangan harap bisa dapat harga promo, sama saja kita di calo! padahal ini loket resmi tiket pesawat Air Asia di Balikpapan lho... Setelah tiket dibeli, melanjutkan perjalan dengan menaiki angkot warna coklat ke terminal angkot, orang-orang sini menyebutnya TERMINAL DAMAI, yang jelas disana tempat berkumpulnya angkutan kota berbagai warna, ada coklat, hijau, kuning dan biru. kata sopirnya tiap warna angkot memiliki rute sendiri-sendiri dan tidak boleh mengambil dan mengantar penumpang yang bukan rutenya. Bisa kelahi katanya. Setelah turun dari terminal, lanjut menaiki angkot warna biru kekota, sambil mencari-cari informasi ketempat wisata Bukit Bangkirai. Ingin sekali rasanya kesana, hanya saja ternyata aksesnya sulit, saya sempat mengobrol beberapa kali tentang tempat tersebut dengan beberapa sopir angkot dan penumpangnya, tapi informasi yang mereka berikan lumayan menguras uang, ada yang menyarankan menyewa mobil kijang seharga Rp.250.000,-/hari kata sopir angkot. Kata salah satu ibu-ibu penumpang angkot, bisa menyewa ojek seharga Rp.200.000,- sambil meminta tukang ojek tersebut menunggu diluar tempat wisata untuk mengantar kembali pulang nantinya. Ada juga tukang sopir angkot menawarkan hari sabtu bersama-sama temannya ketempat itu, hanya saja dari cara berbicara dan bahasa si sopir, bisa saya baca kalau dia tidak pernah kesana. Semua pilihan tadi terasa tidak cocok dikepala dan dikantong karena terlalu bertele-tele dan mahal. Saya butuh informasi lain, jadi harus kekota lagi mencari warnet yang punya kursi empuk dan AC dingin untuk mencari informasi tentang cara mudah pergi ke tempat wisata Bukit Bangkirai. Ada beberapa blogger yang menuliskan pengalamannya tentang berwisata kesana, salah satunya adalah dengan menaiki angkot dari bandara ke terminal Bus, kemudian menaiki bus rute samarinda dan meminta pak sopir agar diturunkan di Semboja kilo 38, lalu disana naik ojek yang dibayar Rp.60.000,- pulang pergi. Dari total biayanya sekitar Rp.150.000,-. Masih terlalu mahal untuk ukuran kantong pelit saya ini. Browsing lagi kesana-kemari mencari alternatif lain. Ada informasi disitus kaskus tentang penyewaan sepedamotor di Balikpapan, dan kebetulan punya situs internet beralamat http://rentalbagus.com harga yang ditawarkan lumayan murah Rp.70.000,-/hari untuk motor Scoopy dengan tidak ada batasan berapa kilometer yang ditempuh. Syarat-syarat juga menurutku sudah adil, biaya murah, jadi inilah alternatif terbaik. Soal jalan menuju ketempat wisata Bukit Bangkirai itu tidak jadi masalah karena saya punya Google Maps dihape yang lumayan jelas foto satelitnya untuk Balikpapan.
Foto ini dari Pemkot Balikpapan yang saya dapat di internet, jadi ini bukan dari Google Earth ya...

Rabu, 19 Januari 2011. Pkl 02.56pm.
Mendung pekat terlihat diatas masjid agung At-Taqwa, jelas sekali tanda hujan deras akan segera turun, tidak ada pilihan bagi saya kecuali harus naik angkot biru keterminal DAM kemudian lanjut lagi naik angkot coklat dan pulang ke Sepinggan. Daripada menunggu hujan reda dikota padahal sudah tidak ada lagi yang bisa dicari hari ini. Sampai dikost, perut betul-betul keroncongan karena dari pagi belum diisi makanan kecuali minuman pocari sweat lagi. Setelah sholat ashar, jalan sebentar kepasar yang tidak jauh dari surau kecil, kemudian membeli 3 potong pisang goreng dan 2 potong tahu goreng yang harganya Rp.5000,- semua, muahal sekali harganya, dinunukan saja dimana biaya hidupnya lebih tinggi dan biaya taksinya juga tinggi justru harga pisang goreng paling mahal adalah Rp.2000,- untuk 3 potong. Benar-benar dicekik para pendatang jika singgah disini. Malamnya setelah sholat Maghrib sempat berniat membeli amplang buat keluarga dirumah, tapi harganya pun muahalnya minta ampun, terpaksa dibatalkan dan menunggu besok setelah dapat menyewa sepedamotor dan mencari ketempat lain yang lebih murah.

Kamis, 20 Januari 2011. Pkl 09.00am.
Pagi ini sudah merasa yakin akan kebukit Bangkirai, kebetulan pakaian yang dicuci juga sudah kering semua. Sebelumnya ingin mengisi pulsa dahulu untuk menelpon sipemilik rental sepedamotor, tapi setelah ditelpon ternyata semua sepedamotor yang disewakan sedang keluar dan akan kembali pada sabtu siang, sedangkan saya harus berangkat lagi keluar negeri pada Ahad pagi. Kalau saya hitung, biaya sewa Rp.70.000,-/24 jam terasa belum cukup dan belum puas. Terpaksa membatalkan niat kebukit Bangkirai pada hari ini, mungkin dilain waktu saja ketika singgah lagi ke Balikpapan.

Kamis, 20 Januari 2011. Pkl 10.00am.
Menaiki angkot coklat jalur 7 jurusan terminal DAM, niatnya berubah untuk membelikan sedikit oleh-oleh untuk keluarga di Nunukan, tapi akan diantar oleh kurir Pos. Sampai diterminal, makanan ringan Amplang yang saya cari terasa mahal disana, lelah mengelilingi terminal mencari yang murah. Singgah sebentar diwarung pinggir jalan memesan Es Campur tanpa Tape seharga Rp.5000,- sekedar melepas lelah sekaligus mengisi perut yang belum sarapan ini. Setelah habis semangkok, saya lanjut berjalan kaki keluar dari terminal angkot mencari Amplang ditoko-toko samping jalan. Lumayan jauh saya berjalan kaki, sampai di Balikpapan Superblok atau BSB dan singgah sebentar berputar-putar hanya untuk mendinginkan badan dengan AC di mall BSB karena dari tadi jalan kaki sudah terpanggang panasnya matahari. tidak ada yang dibeli di mall BSB, hanya liat-liat dan pegang-pegan lalu setelah merasa adem dan nafas kembali santai, barulah keluar lagi berjalan kaki dan mencari Amplang. Ketemu deretan toko penjual oleh-oleh didepan SEKOLAH POLISI NEGARA. Hanya menghabiskan Rp.90.000,- saja untuk 3 bungkus ukuran sedang amplang, 1 bungkus ukuran besar, dan dua kotak ukuran sedang abon kepiting. Setelah dibungkus dengan kardus, langsung beranjak pulang kekost dan istrahat sambil menunggu dzuhur lalu mengisi perut dengan nasi lalap seharga Rp.12.000,- mahal juga, saya tidak mau lagi makan disitu, terlalu mahal untuk kota Balikpapan. Lalu pulang lagi tidur sebentar karena sore ini berniat ke pantai Manggar Segarasari.

Kamis, 20 Januari 2011. 03.35pm.
Sholat ashar disurau kecil dekat kost, awalnya jamaah disana selalu memperhatikan cara saya wudhu dan gerakan sholat. Sepertinya mereka betul-betul penasaran dengan gaya saya yang ke-Muhammadiyah-an. Sekarang mereka justru cuek-cuek saja, mungkin sudah tahu. Setelah ashar langsung beli Pulpy Orange sambil bertanya kepenjualnya Pantai Manggar Segarasari itu dimana... Langsung dijelaskan dengan detail sekali: "Arahnya ketimur, jadi bapak harus menyebrang jalan kesebelah sana, lalu naik taksi coklat nomor 7, kemudian bilang kesopirnya mau kepantai  manggar segarasari. Jaraknya dari sini sekitar 10km, nanti ketemu dua jembatan besi, yang pertama agak pendek, dan yang kedua cukup panjang jembatannya dan sedang ada perlebaran jembatan. Kalau sudah ketemu jembatan tadi berarti sudah dekat dengan pantai, letaknya disebelah kanan jalan, nanti ada seperti papan namanya dari keramik, masuk saja kesana dengan jalan kaki karena jarang sekali taksi mau masuk kesana kalau bukan hari libur, bayar taksinya Rp.4000,- saja. Sampai didekat pantai biasanya masuk gratis kalau bukan hari libur... Bapak dari mana ya???". Saya masih ingat hampir 10 menit penjual minuman tadi menjelaskan kepada saya jalur kepantai itu. Langsung saja saya ikuti petunjuknya tanpa ragu, cukup lama memang perjalanannya, dari taksi angkot yang awalnya penuh penumpang, tinggal saya sendiri masih saja belum sampai kepantai. sekitar 20 menit kemudian taksi berhenti dan menunjukkan saya papan nama pantai manggar segarasari tadi yang memang terbuat dari beton dan keramik, diatasnya ada juga papan nama terbuat dari besi stainless, masuk 10 meter ada lagi baliho besar foto pantai itu yang lumayan cantik, 15 meter kemudian ada tugu disamping jalan seperti pasak yang diukir khas dayak. Sekitar 200 meter kemudian, ada tempat pembayaran retribusi tempat wisata yang tidak ada penjaganya, berarti memang gratis masuknya, disamping pos itu tertulis: Anak-anak Rp.1000,- Dewasa Rp.2000,- Sepedamotor Rp.2000,- mobil Rp.5000,- Bus Rp.10.000,-. sekitar 200 meter kemudian saya sampai dipasir pantai yang putih dengan air laut yang tidak terlalu jernih, kejernihan air hampir sama dengan pantai sungai taiwan dibatu lamampu sebatik. Pantai ini memang bagus, bersih sekali dan mengarah kelaut lepas. Dilautan terlihat sejenis kapal yang mirip kapal besar Phinisi tapi kayaknya bukan, entahlah kapal apa itu. Disebelah kanan ada beberapa pengunjung yang sedang menaiki Banana Boat, saya tidak bertanya berapa biaya naiknya. Ada juga sekelompok anak SMA yang bermain voli pantai bersama pengunjung lain. Dibelakang pantai ada banyak toko-toko rumah makan dan penjual minuman. Disamping pantai terdapat banyak pohon cemara yang rindang sekali, dan dibawahnya ada penyewaan tikar untuk bersantai dibawah pohon, saya juga tidak bertanya berapa harga sewanya tapi banyak sekali yang menawarkan saya... Disebelah kiri masih ada pantai dan cukup ramai pengunjungnya. Saya tidak kesana karena mengingat sudah hampir pukul 5 sore, sedangkan jika saya perhitungkan perjalanan pulang ditambah sopir taksi pasti akan singgah mengambil penumpang diperjalanan pulang nanti, kemungkinan saya akan tiba di kost hampir pukul enam sore, dan benar saja... Malamnya Balikpapan diguyur hujan lagi, tapi memang sepertinya saya tidak pernah jalan terlalu jauh di malam hari.


Jumat, 21 Januari 2011. Pkl 10.00am.
Agak telat memang untuk beraktifitas, tetapi memang sengaja karena tidak banyak yang saya rencanakan hari ini. Hanya ingin kekota naik angkot 7 keterminal DAM lalu turun dan berganti angkot 9 dan pergi kewilayah kota balikpapan untuk sholat jumat dimasjid agung At-Taqwa. Dalam khotbah jumatnya, tidak jelas apa sebenarnya yang ingin beliau sampaikan karena isi khotbah yang disampaikan hanya berisi keluh-kesah tanpa solusi realistis dan strategis yang bisa langsung diterapkan oleh jamaah jumat. Isi khotbah pun seperti dikarang sedemikian rupa sehingga mirip orang yang sedang berpantun dan berpuisi, dimana setiap akhir kalimat hampir sama nadanya dengan kalimat-kalimat sebelumnya. Dari dahulu sebenarnya saya memang sudah lama mengkritisi khotbah jumat yang "asal bunyi" seperti itu. Entah apakah benar-benar sang khatib ingin menjadi seorang pemimpin umat berani naik diatas mimbar dan memberikan pengarahan dan solusi yang tepat dan bisa dicerna dengan baik oleh umat Islam, menjadi seorang pemimpin yang bertanggung jawab, bukan hanya sekedar berkeluh-kesah tanpa ada sedikitpun penyelesaian masalah. Saya pernah mendengar ceramah ustadz di Nunukan yang bertubuh kecil tapi berani mengkritisi siapa saja yang menentang kemajuan umat islam, lalu secara bijak memberikan solusi yang sangat mudah diterapkan. Begitu juga ketika umat mengalami musibah, khotbahnya pun benar-benar membantu umat islam agar tegar dan kembali bersemangat melanjutkan kehidupannya. Jarang sekali saya menemukan khotbah jumat yang memberikan efek positif-konstruktif seperti itu baik di Nunukan maupun didaerah dan negara yang pernah saya kunjungi.

Jumat, 21 Januari 2011. Pkl 01.03pm.
Selesai sholat jumat, saya kembali ketaman kota mencoba wifi gratisnya lagi. Hanya 5 menit tersambung keinternet dan membuka google earth, koneksi mulai kacau dan memburuk, lambat dan terputus sendiri. Kemungkinan terlalu banyaknya permintaan untuk mengakses terminal wifi TELKOMhotspot. Bukan hanya jaringan Telkom, jaringan telkomsel yang saya akses dari hape pun juga sama, konek tapi time-out terus. Selama hampir 15 menit duduk ditaman kota membuka netbook yang hampir habis baterainya, perasaan panas pun mulai memuncak. Bukan hanya karena matahari yang bersinar sangat panas tapi juga lelah menunggu loadingnya halaman pariwisata balikpapan. Koneksi wifi benar-benar sudah terganggu, sebagian pengunjung taman yang membawa laptop, satu-persatu mulai meninggalkan taman dengan wajah cemberut. Beginilah jaringan internet di Indonesia, tidak didesa maupun dikota semua sama kualitasnya, dibawah standar.

Jumat, 21 Januari 2011. Pkl 02.16pm.
Tidak tahan dengan panasnya kota Balikpapan dihari jumat, sayapun melangkahkan kaki untuk pulang kembali ke kost ilma. Walaupun banyaknya pohon-pohon rindang dikota ini, tetap saja tidak dapat meredam panasnya matahari dihari jumat. Tapi sepertinya dimana-dimana jika hari jumat, panas matahari benar-benar terasa sekali... Entah kenapa. 20 menit kemudian tiba di kelurahan Sepinggan tempat saya menginap, langsung mencari air minum dingin pulpy, dan masuk kekamar membuka baju dan mendinginkan badan dengan kipas kecil yang disediakan pemilik kost. Tidak banyak yang bisa diceritakan dihari ini. Malamnya setelah sholat isya hanya membeli nasi goreng yang campuran dagingnya terdapat daging kuda laut kecil dan cumi-cumi kecil seharga Rp.10.000,- rasanya seperti krupuk. Lalu lanjut jalan sebentar dipasar sepinggan dan membeli kue terang bulan yang harganya Rp.1500,- dan menjadi teman dikamar sambil menonton film TRON yang sudah lama saya download dari situs bajak laut, tak pernah bosan dengan filmnya...

Sabtu, 22 Januari 2011. Pkl 08.30am.
Pagi ini saya benar-benar ingin ke tempat makam tentara jepang perang dunia kedua. Awalnya kebingungan kesana karena tidak ada angkot dari Sepinggan yang mau kesana, saya berpikir kemungkinan jaraknya yang jauh, jadi harus menaiki 2 kali angkot yang jalurnya sama. Angkot pertama hanya bisa menurunkan saya dipantai manggar segarasari dan beliau menyarankan agar saya menunggu angkot lain yang mau kedaerah Teritip, saya mengerti saja karena memang terasa jauh, bahkan di Google earth pun wilayah Teritip juga terlihat jauh. Jalan kaki sekitar 5 menit ada angkot yang bersedia mengantarkan kesana. Hanya saja saya tidak menyebutkan kalau ingin ke makam tentara jepang. Saya hanya mengandalkan peta yang saya download dari situs dinas pariwisata balikpapan, dan sesekali memperhatikan jalan jikalau ada papan nama yang menyebutkan makam tentara jepang. 20 menit kemudian angkot langsung saya teriaki agar stop, karena sudah terlihat sebelumnya papan pengumuman tentang lokasi makam tentara jepang. Hanya saja ada lagi embel-embel dipapan pengumuman tadi: 200 meter!. Terpaksa jalan kaki lagi masuk kejalan beraspal yang selebar 1 angkot. Sempat bertanya kepada seseorang yang sudah tua, dimanakan makam tentara jepang itu, bapak itu mengatakan terus saja sampai kepantai lalu belok kekiri. Dan jika saya hitung, jaraknya justru lebih dari 500 meter bukan 200 meter, hanya saja kita melewati pantai Lamaru yang agak sunyi dari pengunjung. Sekitar 100 meter dari pantai, orang tua yang saya tanya tadi malah menjemput saya dan bersedia mengantarkan ketempat makam jepang itu karena dia pun ingin kekebunnya yang terletak tidak jauh dari situ. Didepan makam tentara jepang itu tepatnya dijalan masuknya ada genangan air laut yang cukup lebar dan tidak ada cara lain atau jalan lain untuk masuk kemakam itu kecuali menyebrangi genangan air laut tadi. Saya hampir heran darimana air ini berada, penduduk setempat mengatakan itu air dari laut karena memang makam ini terletak disebelah pantai, hanya saja jarak pagarnya dengan bibir pantai sekitar 50 meter. Terpaksa merelakan sepatu merk Finotti ini saya tenggelamkan kedalam kubangan air, awalnya saya ingin melepas sepatu ini dan berjalan kaki ayam melewati genangan tetapi setelah saya perhatikan kedalam genangan, ada duri-duri tanaman rerumputan, sebagian tempat justru dipenuhi sampah dan botol kaca, berarti kemungkinan ada potongan-potongan botol kaca disini yang bisa saja menancap dikaki saya. Air pun membasahi sepatu dan kaos kaki saya, demi melihat lebih dekat makam tentara jepang itu. Setelah berada didepan pintu pagar, pintunya justru tertutup dan diikat dengan tali. Kalau saya teliti kemungkinan pagar ini diikat agar tidak selalu terbuka akibat hembusan angin pantai, karena tidak terlihat dipagar ada semacam kunci ataupun rantai besi, berarti makam ini bisa dimasuki oleh umum. Mau tak mau, saya harus memanjat pagar dengan sepatu yang basah kuyup. Mumpung tidak ada pengunjung pantai atau makam, terpaksa juga kegilaan itu saya lakukan, tapi memang dari awal perjalanan inipun diawali dari kegilaan... Makam ini dipenuhi dengan berbagai tanaman hias yang cantik dan terawat baik, ada panggung 4x3 meter disebelah kiri, dan beberapa spanduk yang bertulisan jepang. Diujung jalan ada tugu setinggi 4 meter bertulisan jepang dan diatasnya terdapat bendera matahari terbit atau bendera khas negara jepang. Disebelah kiri ada monumen kecil yang ada tulisan bahasa indonesianya: MAKAM WARGA JEPANG. KAMI SENANTIASA BERDOA UNTUK PERDAMAIAN DUNIA DAN KESEJAHTERAAN SEGENAP RAKYAT INDONESIA. JULI 1990.




Disebelah kanan ada juga monumen yang sama tapi tidak tertulis apa-apa. Sedangkan dibelakangnya ada makam dengan batu nisan khas melayu-islam. Disampingnya ada tulisan berwarna merah yang sudah memudar dan hampir tidak bisa lagi terbaca, tapi sebagian tulisan bisa diprediksi sebagai kata "Indonesia". Lokasi makam ini tidak terlalu luas, kemungkinan sekitar 15x10 meter saja. Setelah puas, saya pun memanjat kembali pagar makam itu untuk keluar dan kembali menyebrangi genangan air lalu menuju bibir pantai untuk beristirahat disepotong kayu dan membuka serta memeras air laut yang masuk kesepatuku. Didepanku ada sepeti tiang-tiang bekas jembatan, entah apakah itu benar-benar jembatan atau tidak. Setelah puas foto-foto, hanya sekitar 1 jam saja saya berada disana, lanjut perjalanan keluar dari pantai tadi dengan berjalan kaki pergi kejalan besar dan menunggu angkot lewat.

Sabtu, 22 Januari 2011. Pkl 10.03am.
Perjalanan saya lanjutkan ke penangkaran buaya. Sempat kebingungan dimana tempatnya, saya pun tidak memberitahukan kepada sopir kemana tempat yang ingin saya tuju, hanya setelah melewati jalan masuk kepenangkaran buaya baru saya beritahu, dan beliau pun iya-iya saja. Setelah sampai beberapa menit kemudian sisopir pun sadar kalau ternyata sudah terlewatkan, sayapun tidak tahu persis dimana tempat itu berada. Karena sudah lewat, dan ada penumpang yang ingin kepasar Teritip, jadi saya terpaksa sabar dahulu menunggu penumpang itu sampai ditempatnya lalu memutar lagi ketempat penangkaran buaya. Setelah sampai ada dua buah patung buaya didepan pintu masuk, lucunya patung yang satu dibentuk seperti buaya tetapi mengenakan jaket bajak laut dan topi mirip koboi, sedangkan patung yang satunya lagi buaya juga tapi tidak memakai pakaian apapun dan sedang bergaya santai duduk menaikkan kaki kirinya kepangkuan kaki kanan serta kedua tangan ditaruh dibelakang kepalanya. Belok kiri, ada pos pembelian karcis masuk, tapi ternyata tidak ada penjaganya jadi saya masuk aja. Disebelah kanan ada 2 ekor gajah, yang satu masih kecil, kamerakupun mulai menjepret kesana kemari. Disebelah kanan ada seperti panggung besar dengan arsitektur dayak. Maju terus sebuah pintu dijaga beberapa orang, yang satu ternyata penjaga tempat itu dan menagih uang retribusi sebesar Rp.10.000,- untuk dewasa dan Rp.5000,- untuk anak-anak yang sama seperti tertulis di pos pembelian karcis masuk tadi. Didalam terdapat ratusan buaya hidup yang dibagi dalam beberapa ruang. Buaya ini masih terlihat muda dan tidak terlalu besar. Sepasang pengunjung sedang ngobrol dengan seorang penjaga tempat buaya. Saya pun menghampiri sambil mendengarkan pembicaraan mereka yang hanya berkisar tentang daging, tulang dan kulit buaya yang bisa dipakai sebagai obat-obatan. Diruangan kandang yang lain, sekelompok pengunjung terkena cipratan air kandang buaya yang sedang ngamuk. Sedikit memprovokasi pembicaraan antara sepasang pengunjung dengan penjaga tadi, sayapun bertanya dimana buaya yang paling besar dipenangkaran ini... Sipenjaga tadi menunjuk kebelakang. Saya dan sepasang pengunjung tadi langsung pamit dan menuju ketempat buaya yang paling besar itu. Memang sangat besar ukurannya, setidaknya 6-7 meter panjangnya. Seorang pemuda menawarkan saya untuk melempar ayam mati kedalam kandang buaya yang besar tadi dan melihat mereka saling berebut makanan ayam itu, tapi saya menolaknya karena tujuan saya kesini bukan untuk memberi makan buaya yang ukurannya tiga kali lipat dari ukuran saya, tetapi hanya sekedar ingin melihat dan memfoto mereka saja. Setelah puas melihat buaya, saya beranjak keluar dari kandang buaya, sebelum pintu keluar disebelah kiri ada suvenir berbentuk buaya yang khusus dijual untuk pengunjung. Saya tidak bertanya berapa harganya karena memang tidak berminat. Diluar kandang buaya tepat disebelah kanan ada juga beberapa kandang binatang lain seperti monyet, ular, kura-kura, dan sejenis rubah. Puas berinteraksi dengan binatang liar yang sudah sayu matanya karena mungkin telah dikurung bertahun-tahun lamanya, saya kepanggung tadi untuk melihat-lihat dan memfoto bangunannya. Setelah itu pulang dalam keadaan mendung pekat. Untuk saja bisa secepatnya mendapatkan angkot pulang karena dijalan sudah bersimbah air hujan yang lumayan derasnya.







Sabtu, 22 Januari 2011. Pkl 01.00pm.
setelah dzuhur, hujan masih melanda kota Balikpapan. Saya pun sebenarnya sudah tidak bisa kemana-mana lagi walau sebenarnya saya ingin sekali ketempat wisata Taman Hutan Bangkirai, Taman Agro Wisata Km 23, Kawasan Hutan Lindung Sungai Wain, Wanawisata Km 10, Pelabuhan Fery, Meriam Jepang, Goa Jepang, Tugu Australia, dan Kilang Minyak Pertamina. Hanya saja karena hujan masih menguyur serta tidak ada sepedamotor yang bisa disewa, terpaksa semua tempat wisata dilewatkan, mungkin untuk sementara waktu saja. Siapa tahu nanti bisa kembali lagi kekota Balikpapan...

Minggu, 23 Januari 2011. Pkl. 08.45am.
Setelah mandi dan menyiapkan semua barang bawaan kedalam tas ransel Eiger, saya berjalan kaki ke bandara sepinggan balikpapan, tidak perlu naik taksi atau ojek, karena jaraknya kurang lebih 200 meter saja. Perjalananku selanjutnya akan keluar negeri, jadi paspor dan kartu NPWP harus disiapkan, kenapa harus kartu NPWP??? Karena mulai 1 Januari 2010, bagi wajib pajak yang memiliki kartu NPWP seperti saya, digratiskan biaya pajak fiskal keluar negeri. Selain wajib pajak, para mahasiswa dan para peneliti dari organisasi atau universitas bisa juga mendapatkan fasilitas gratis pajak fiskal ini tetapi harus melapor dulu kekantor pajak terdekat sambil membawa semua kartu dan surat-surat yang menyangkut pekerjaan anda. Sesampai di bandara sepinggan, bagi penerbangan internasional, setelah anda memasuki pintu cek bandara, anda harus kesebelah kiri ruangan cek-in tepatnya dibagian imigrasi. Tapi itu setelah anda cek-in terlebih dahulu tiket penerbangan anda. Perlu diketahui, papan nama penerbangan yang ada diatas setiap loket tidak membuktikan bahwa itu adalah loket resminya, contohnya seperti saya yang naik pesawat Air Asia, loketnya justru dibawah papan nama Sriwijaya Air, tetapi dimeja petugas ada tanda Air Asia. Sebelum cek-in, akan ada poster besar didepan loket yang meminta anda menimbang dahulu bagasi anda agar tidak lebih dari 7kg. Tidak perlu khawatir kelebihan muatan harus masuk bagasi dan membayar beberapa puluh ribu rupiah, atau lebih parah anda diminta membungkus kelebihan bagasi anda ditempat pembungkusan bagasi dengan dikenakan biaya Rp.20.000,- untuk bungkus plastik dan Rp.15.000,- untuk tali plastik. Seperti itu tidaklah diharuskan, karena anda tetap saja bisa membawa 2 tas yang beratnya lebih dari 7kg kedalam bagasi kokpit pesawat, karena tidak ada petugas yang mensortir bawaan anda. Apalagi jika pembukaan loket cek-in terlambat 30-60 menit, para petugas cek-in bagasi harus melewatkan beberapa prosedur standar agar anda tidak ketinggalan pesawat, lagipula didalam 1 pesawat Air Asia, bisa memuat lebih dari 150 penumpang. Bayangkan berapa jam kira-kira petugas harus mensortir semua penumpang secepatnya agar tidak ketinggalan pesawat, jadi don't wory, just enjoy youre flight... Setelah cek-in tiket, anda diberikan kartu keberangkatan dan kedatangan yang menempel jadi 1, isilah bagian kartu keberangkatan dengan identitas passport anda dan nomor penerbangan anda, sedangkan kartu kedatangan disimpan baik-baik dan jangan sampai hilang, karena itu nanti akan diminta oleh imigrasi indonesia ketika anda kembali di indonesia, sekali lagi JANGAN SAMPAI HILANG. Setelah petugas imigrasi membuka loket pemeriksaan, bayar dulu biaya bandara sebesar Rp.100.000,- loketnya ada didepan loket imigrasi, dekat saja. Sedangkan pajak fiskal, pada penerbangan saya itu sama sekali tidak ditanya, bahkan semua penumpang tidak dimintai bayar pajak fiskalnya, akupun tidak tahu kenapa, tapi dari yang saya dengar biaya fiskal bisa mencapai Rp.500.000,- sampai Rp.2.000.000,- untuk satu kali penerbangan bagi yang tidak memiliki NPWP atau bebas fiskal lainnya. Saya sempat ditanya tentang passport saya yang agak sedikit lecet dibagian pelapis fotonya tapi hanya sedikit, pihak imigrasi sempat menanyakan panjang lebar tentang kenapa paspor saya bisa seperti itu, lalu mereka sedikit menyarankan bahwa sedikit saja kecacatan dibagian pelapis foto bisa saja membuat masalah karena bisa dianggap memalsukan foto karena segel pelapisnya rusak. Kata mereka, bagi imigrasi indonesia itu tidak masalah karena rusaknya masih sedikit dan jika dipindai semuanya benar saja tidak ada pemalsuan. Tapi kata mereka, imigrasi di negara lain bisa saja menganggap itu masalah serius. Tapi saya katakan kepada mereka, biarlah dianggap bermasalah, saya nanti yang bertanggung jawab. Setelah selesai dengan pihak imigrasi indonesia, lanjut keruang tunggu. Ternyata pesawatnya terlambat 1 jam dan saya belum makan siang. (Bersambung...)

http://pirantiku.blogspot.com/2011/01/backpacker-kuala-lumpur.html

{ 6 komentar... read them below or Comment }

  1. Syukro ya akhi. Info sangat lengkap, bermanfaat bagi ana yg juga sdh memasukkan BP to my list of cities to visit. Ruuuuuuuuuuar biasa pengalaman antum dengan segala + n - nya (baca: pengalaman enak dan tidak enak). At least, ana sekarang Insya Allah bisa make a good plan for the purpose of saving time, money, energy etc pd saat berkunjung ke BP. Info ini akan menjadi amal tambahan bagi antum dan semoga Allah SWT senantiasa memberi baroqahNYA pd antum. Jazakallah ( dar Uda Y) somewhere in Jakarta

    ReplyDelete
  2. mas punya nmr telepon yang punya penginapan Ilma nya gak?

    ReplyDelete
  3. mas punya nmr telepon yang punya penginapan Ilma nya gak?

    ReplyDelete
  4. Maaf saya sudah lupa... tapi silahkan ikuti foto google earth yang ada di artikel ini

    ReplyDelete
  5. Nice blog...

    Btw kalau gak ada waktu buat hunting oleh-oleh di Balikapapan, bisa call FIEKASHOP, kami siap delivery ke hotel tempat kamu nginep...

    kami sedia semua macam makanan khas Balikpapan mulai dari amplang sampai peyek kepiting

    Info lebih lanjut klik di http://fiekashop.wordpress.com/

    ReplyDelete
  6. EMWEKA GUEST HOUSE N PAVILLION BALIKPAPAN

    ROOM RATE RP 110.000 s/d RP 200.000
    sewa hari/bulan fasilitas standar HOTEL harga terjangkau
    Room 4,5x7m hot n cold shower LED TV 29"+satelite bed, 200x200,kulkas,sofa meja kursi dll

    HP 0812 5413 0055/ 0542 7199 222 pin 29947eac

    ReplyDelete

Komentar yang diberikan disini adalah tanggapan pribadi masing-masing penulisnya, dan tidak mewakili kebijakan redaksi blog ini

Popular Post

Blogger templates

Copyright tidak berlaku dan gratis. Powered by Blogger.

Google+ Followers

Pengikut

Selamat pagi, siang, sore dan malam

KOMENTAR TERBARU

TULISAN TERBARU

- Copyright © CITIZEN JOURNALISM -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -